Acara METIKAN (asal dari Metik = Panen) merupakan acara tradisi yang dilaksanakan oleh Pabrik Gula menjelang giling.
Menurut sejarah Pabrik Gula, pada jaman Kolonial dimana pada waktu itu pengelola Pabrik masih dipegang oleh Bangsa Belanda (Bangsa Kolonial), menjelang musim giling pabrik gula melaksanakan acara Selamatan Giling disamping itu mengadakan hiburan rakyat untuk karyawan dan masyarakat sekitar Pabrik Gula. Istilah lain acara selamatan di tiap Pabrik Gula tidak sama, beberapa istilah antara lain Cembengan, Wiwitan, Royal-an, Bancakan.

Hiburan ini sangat menarik bagi masyarakat di sekitar Pabrik Gula, terbukti setiap tahun pengunjung sangat padat. Pengunjung hiburan pasar malam yang diselenggarakan kurang lebih 15 hari sebelum tanggal 28 Mei 2009, yang berasal dari daerah Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal. Pada acara ini juga merupakan ajang bisnis para pengusaha, pedagang mainan anak, makanan dan pakaian dengan harga terjangkau, serta ajang promosi berbagai macam produk. Tidak ketinggalan pula keamanan terpadu dari Aparat Pemerintah maupun dari Karang Taruna, seperti Polsek Jatibarang, Koramil, Pamong Praja Kecamatan. Dengan tujuan agar kelangsungan acara metikan tersebut berjalan lancar tidak adanya gangguan.

Panitia selamatan Pabrik Gula Jatibarang menyediakan tempat berupa kapling kurang lebih berjumlah 350 (tiga ratus lima puluh) kapling, untuk stand pasar malam di sepanjang jalan raya Jatibarang. Sedangkan untuk hiburan lain seperti Komedi putar, Orkes Melayu dan Film disediakan 2 (dua) tempat di depan Pabrik (dekat Koperasi PG) dan di lapangan sepak bola PG. Jatibarang dalam waktu 15 hari sebelum hari H (28 Mei 2009)

Istilah petik ini juga umum dipakai bagi masyarakat nelayan ketika musim ikan tiba dan oleh karenanya dilakukan upacara petik laut.
Biasanya pada malam sebelum upacara “metikan” digelar, dilakukan pembacaan salawat. Maka, lantunan salawat nabi dan rampak rebana terdengar di sela-sela roda baja tua mesin pemeras pabrik gula. Ratusan karyawan pabrik gula duduk bersila dengan khusyuk membaca doa demi keselamatan dan keberhasilan musim giling yang akan dijalani. Sama dengan yang terjadi di PG Semboro, upacara dan kegiatan yang diselenggarakan PG tersebut memiliki magnitude bagi masyarakat untuk terlarut di dalamnya melalui serangkaian kegiatan. “Pesta kebun tebu” ditempat ini telah menjadi pesta rakyat dalam kalangan yang luas dan tidak hanya monopoli karyawan PG. Contohnya dengan adanya pagelaran pasar malam yang dilangsungkan selama beberapa hari. Sebagai gambaran suasana pasar malam di PG Jatibarang, Brebes, Jawa Tengah pada tahun 2003 berlangsung sangat meriah. Anak-anak, remaja, dan orang tua membanjiri arena pasar malam yang padat hingga menutupi jalan sepanjang tak kurang dua kilometer di depan pabrik. Kota kecamatan yang kesehariannya tampak sunyi, dalam sepuluh hari terjadi hiruk-pikuk oleh kemeriahan pesta rakyat menjelang musim giling

Pusat ekonomi skala kecil tumbuh di sekitar pusat pesta menandakan akan adanya rezeki dengan dimulainya giling tebu itu. Keramaian itu mengundang para pedagang dari luar Jatibarang untuk menggelar dagangannya. Serta hiburan musik dangdut dengan penyanyi lokal Jawa Tengah yang tetap menjadi hiburan primadona bagi kaum pedesaan di wilayah itu.Perputaran uang di pasar malam itu diperkirakan puluhan juta setiap malam. Tiket masuk untuk nonton dangdut Rp 5.000 per kepala dan stan berkapasitas tempat duduk 300 kursi. Dalam semalam, stan dangdut tersebut dapat mengelar delapan kali pertunjukan. Belum lagi para pedagang arum manis hingga pakaian.

Denyut ritme kehidupan rakyat jelata dan nadi perekonomian rakyat terasa tumbuh. Denyut perekonomian tersebut terselenggara secara murni dari kreativitas masyarakat setempat dan bukan prakarsa pemerintah daerah setempat. Geliat ekonomi itu dijalankan rakyat secara mandiri. Suasana di atas merupakan cermin singkat yang amat terasa betapa perekonomian rakyat pedesaan secara riil itu kentara, di sekitar lokasi pabrik gula menjelang musim giling. Perekonomian rakyat bawah menjadi hidup dan menjadi mata rantai perekonomian rakyat yang tak terputus selama musim giling bergulir.

Mulai persiapan musim giling, pabrik gula sudah membutuhkan tenaga buruh untuk memperbaiki mesin pabrik yang rusak agar rendemen yang dihasilkan meningkat. Di lahan pertanian dibutuhkan buruh tebangan, sementara sebelumnya tenaga kerja dibutuhkan untuk pemilahan bibit untuk musim tanam tahun depan. Sopir-sopir truk yang mengangkut tebu dari lahan tebangan menuju pabrik juga ketiban rezeki. Belum lagi masyarakat sekitar pabrik yang memanfaatkan musim giling untuk membuka warung makanan, tentunya juga para petani tebu di kawasan itu. Mata rantai ekonomi semacam itu menjadi panjang dan tak terputus bila ingin dijabarkan satu per satu.

Memang tak dapat dimungkiri, secara sistematis industri gula di Pulau Jawa yang notabene peninggalan Belanda itu masih bersifat tradisional dan membutuhkan banyak tenaga kerja, namun setidaknya mampu memberikan penghidupan bagi masyarakat pedesaan.

sumber: http://zhizqy.blogspot.com/2009/06/metikan-pabrik-gula-jatibarang.html