Brebes – Sedikitnya 10 desa di Kabupaten Brebes mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di tahun 2011 ini.  Jumlah itu mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang hanya tujuh desa KLB campak.

10 desa KLB campak itu meliputi, Desa Kedunguter, Pagejugan (Kecamatan Brebes), Sawojajar, Kertabesuki (Wanasari), Banjarsari, Pangebatan, Pengarasan (Bantarkawung), Pamedaran, Kubangwungu (Ketangungan) dan Bangsri (Bulakamba).

Data Dinas Kesehatan Pemkab Brebes menyebutkan, hingga September 2011 tercatat kasus campak yang terjadi telah mencapai sebanyak 219 kasus, sedangkan di tahun 2010 sebanyak 128 kasus, tahun 2009 sebanyak 119 kasus dan tahun 2008 sebanyak 51 kasus.

“Di tahun ini, kami mencatat ada 10 desa yang mengalami KLB campak. Lokasinya tersebar di lima kecamatan,” kata  Programmer Imunisasi Dinas Kesehatan Pemkab Brebes, Ismawan Nur Laksono SKM MKes.

Menurut dia, sebuah desa dinyatakan KLB apabila telah ditemukan lima kasus campak yang positif secara laborat, atau wilayah epidemiologis dalam waktu empat minggu berturut-turut. Sementara, di sepuluh desa itu telah ditemukan lima kasus campak positif.

Dari data yang ada, lanjut dia, di Desa Pangebatan telah ditemukan 40 kasus campak. Kemudian di Desa Banjarsari sebanyak 10 kasus, di Desa Pengarasan 15 kasus, Bangsri 12 kasus, Kedunguter dan Pagejugan 10 kasus. Sementara di Pamedaran delapan kasus dan Kertabesuki 25 kasus. “Kasus terbanyak kami temukan di Desa Sawojajar sebanyak 42 kasus dan paling sedikit di Desa Kubangwungu tujuh kasus,” ujarnya.

Dia menjelasakan, guna menekan kasus campak yang terjadi tersebut, Dinas Kesehatan Pemkab Brebes kini mengenjarkan kampanye imunisasi campak. Pelaksanaan kampanye digelar satu bulan mulai sejak 18 Oktober hingga 18 November 2011. Selain campak, juga dilaksanakan kampanye imunisasi polio.

Kampanye itu  merupakan salah satu program untuk memerangi keberadaan campak dan polio di Brebes. Kegiatannya akan menggerakan kelompok sasaran imunisasi campak dan polio tambahan (tanpa memanda status imunisasi yang dilakukan atas dasar temuan, pemantauan ataupun evaluasi.

“Kegiatan ini untuk menghilangkan kelompok rawan campak di daerah resiko tinggi serta untuk menjangkau anak yang belum mendapat imunisasi polio dan campak,” ujarnya.

–42M1– dikutip dari : Suara Merdeka, Kamis, 20 Oktober 2011