Tomat Rasa Kurma? Hanya Ada di Brebes, Jadi cemilan Favorit Bulan Ramadhan
Tomat Rasa Kurma? Hanya Ada di Brebes, Jadi cemilan Favorit Bulan Ramadhan
Brebes – Tomat rasa kurma atau torakur menjadi cemilan favorit warga kabupaten Brebes, Jawa Tengah, saat bulan Ramadhan. Rasanya yang legit menjadikannya sebagai makanan pembuka saat berbuka puasa.
Bahan dasar dari torakor adalah buah tomat. Ide tersebut muncul akibat melimpahnya buah tomat di wilayah kabupaten Brebes, bahkan jika sedang panen raya harganya hanya Rp. 500 per kilogram. Setelah buah tomat tersebut diolah menjadi makanan bernilai, maka keuntungannya juga dapat bernilai jual lebih dari harga dasarnya.
Selain bahan baku yang mudah didapat, proses pembuatan torakor juga tidak sulit. Cara pembuatannya hanya menusuki buah Tomat yang masih segar menggunakan garpu sampai rata, kemudian tomat yang sudah ditusuki tersebut dicelupkan dengan air kapur sirih selama dua jam. Kemudian, keluarkan biji tomat dan selanjutnya direbus selama dua jam bersama gula pasir dengan perbandingan gula, lima kilogram tomat dicampur dengan satu kilogram gula pasir.Setelah matang, angkat lalu tiriskan selama satu malam. Kemudian paginya dijemur di bawah sinar matahari selama dua sampai tiga hari hingga kadar air berkurang, seperti dikatakan oleh perajin torakor Asep Sopari (50), warga Dukuh Wringin, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, di Brebes kepada wartawan Republika, Rabu.
Setelah proses penjemuran, torakor dapat langsung dibentuk menyerupai buah kurma kemudian dikemas dalam plastik.
Banyak pembeli yang belum tahu tentang torakor mengira bahwa torakor adalah buah kurma, karena bentuk dan rasanya menyerupai kurma.
Harga torakor sendiri berkisar Rp. 10000 per kilogramnya, namun jika harga tomat sedang naik, maka harga torakor juga naik mencapai Rp. 15000 per kilogram.
Menurut perajin yang mengeluti usaha pembuatan torakor sejak 2006 tersebut, hingga kini pemasaran torakor masih di wilayah Brebes dan sekitarnya, seperti di swalayan dan toko-toko pusat jajanan di sepanjang jalur Pantura Brebes. Torakor tersebut sudah memiliki izin dari pemerintah dan pengrajin torakor juga mencantumkan tanggal kadaluarsa torakor selama empat bulan setelah pembuatan.
Salah satu penggemar torakor dari Brebes adalah Lukmansyah (27), warga Bumiayu, Brebes. Dia mengaku sangat menyukai torakor, apalagi saat puasa seperti sekarang, hampir setiap berbuka puasa selalu menyantap torakor terlebih dahulu sebagai cemilan pembuka berbuka. Setiap Ramadhan, dia sengaja pergi ke Alun-Alun Brebes untuk membeli sekitar lima hingga tujuh kilogram torakor sekaligus, untuk persediaan berbuka puasa selama Ramadhan.

Sumber Berita : Republika, Rabu, 3 Agustus 2011