Kemacetan di Brebes, memang sudah beberapa minggu belakangan diberitakan di berbagai media.Kemacetan yang terjadi akibat perbaikan jembatan Pemali ini sudah terlampau parah. Panjang kemacetan bisa lebih dari 5 km, bahkan pernah mencapai 20 km yang di dominasi oleh kendaraan Besar seperti Truk barang dan Bus. Akibatnya tidak di ragukan lagi. Banyak warga yang mengeluhkannya, mulai dari ekonomi warga yang terganggu, dan lain-lain. Sudah dujelaskan di postingan terdahulu mengenai hal tersebut.
Sekarang, kita lihat sisi positif dari kemacetan yang selama ini terjadi di jalur pantura Brebes.
Mulai dari Kali Gangsa dari arah Semarang, dan masuk Kecamatan Wanasari, dari arah Jakarta, kemacetan sudah mulai terasa dengan mulai tersendatnya laju kendaraan. Sampai akhirnya, beberapa kilometer dari jembatan Pemali dari kedua arah, kemacetanpun tidak dapat dihindari. Dimulai sudah para pengguna jalan untuk menunggu antrian yang panjang dan memakan banyak waktu.
Di postingan sebelumnya, sudah dijelaskan bagaimana akibat negatif dari adanya kemacetan di Brebes. Kali ini, giliran akibat positif yang ditimbulkan yang akan kita bahas.
Apa ada sisi positifnya? jawabnya “ADA”. Kebanyakan warga di sekitar jalur pantura yang macet tersebut memang mengeluhkan adanya kemacetan yang terjadi. Tapi tidak begitu bagi beberapa warga yang mempunyai pemikiran berbeda. Beberapa warga justru menjadikan kemacetan yang terjadi sebagai ladang penghasilan. Ladang Penghasilan? maksudnya? Maksudnya, warga yang berpikir positif menjadikan kemacetan yang terjadi di pantura Brebes, untuk mencari penghasilan dengan menawarkan jasa pencari jalan pintas (alternatif) bagi para pengguna jalan yang terkena macet.
Seperti yang sudah diberitakan di postingan sebelumnya, memang beberapa warga sudah melakoni pekerjaan menawarkan jasa tersebut kepada pengguna jalan dari awal kemacetan terjadi. Mereka menawarkan kepada pengguna jalan untuk mencari jalan alternatif untuk menghindari kemacetan. Memang, tidak semua pengguna jalan yang terjebak kemacetan yang ditawari oleh penawar jasa tersebut, tapi hanya kendaraan kecil saja yang ditawari. Alasanya, karena jalan yang bakal dijadikan jalan alternatif merupakan jalan pedesaan di wilayah Klampok dan Wanasari.
“Nah, titik-titik jalan alternatifnya itu nanti masuk ke daerah Puskesmas Klampok, Gang Luwes, Pesantunan, dan Prapapatan Sadjajar. Nanti keluarnya setelah Jembatan Kali Pemali,” kata Asep, seorang penawar jasa penunjuk jalur alternatif yang memaparkan jalan alternatif tersebut kepada tim Gowes Jurnalistik: Pantau Mudik Jakarta-Surabaya 2011 saat melintas di jalur itu, Minggu (16/7/2011). Percakapan dikuti dari berita di travel.kompas.com, Senin, 18 Juli 2011.
Ternyata, bukan hanya kemacetan yang di pantura Brebes saat ini, yang dimanfaatkan beberapa warga yang berfikir positif tersebut. Dalam berita di kompas.com juga dijelaskan, beberapa tempat yang menjadi titik rawan kemacetan dan yang nantinya bias menjadi lading penghasilan oleh para penawar jalan alternative tersebut. Diantaranya seperti, di Pasar bawang Klampok, Pertigaan Pejagan, Pasar Induk Brebes, dll saat hari libur, hari raya, dll.
Hasil yang mereka dapat dari menawarkan jasa tersebut bias dikatakan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Memang, tidak mudah menawarkan kepada pengguna jalan. Tapi, setidaknya, beberapa pengguna jalan yang sedang membutuhkan jasa tersebut akan dapat terbantu olehnya.
Itulah akibat dari kemacetan yang terjadi di Pantura Brebes, diambil dari sisi positifnya.

Sumber bertita : kompas.com