Salah satu pertanyaan yang pantas untuk keadaan pantura di Brebes saat ini (Juli 2011). Mengapa? Sudah bisa dilihat sendiri kenyataannya, dan sudah bisa ditebak sendiri jawabannya.

Ya. Setiap hari, Kemacetan Panjang dan parah, Semrawut, Pembangunan jembatan yang tak kunjung usai, dan lain-lain. Memang itu yang cocok untuk gambaran Pantura Brebes saat ini. Kenapa tidak? Kenyataannya, setiap hari, ratusan antrian kendaraan bermotor, kendaraan pribadi, bahkan truk-truk bermuatan berat terlihat mengular sampai beberapa kilometer di Jalur Pantura Brebes.

Parahnya lagi terjadi di Kota Brebes sendiri, pusat dari Pemerintahan, Ekonomi dan pendidikan kabupaten Brebes, khususnya bagian utara (pantura). Setiap hari, kemacetan yang terjadi karena adanya perbaikan jalan, dan beberapa jembatan menyebabkan berbagai masalah lain muncul dari berbagai kalangan dan bidang.

Lumpuhnya perekonomian warga misalnya. Banyak warga yang mengeluhkan kemacetan yang telah terjadi beberapa minggu belakangan, karena berbagai alasan. Salah satu alas an yang sering dikeluhkan adalah terganggu bahkan lumpuhnya ekonomi mereka. Salah satu akibat yang bisa dikatakan “terbesar”. Memang. Ekonomi yang paling vital untuk warga, namun terganggu oleh kemacetan. Pasalnya, kemacetan menghambat mereka ke tempat tujuan merekan untuk menjalankan roda ekonomi mereka.

Ke Pasar misalnya. Bayangkan saja. Kita dari Klampok ingin mengantar Bawang ke Pasar Induk Brebes. Seharusnya, tidak lebih dari 30 menit kita sudah sampai di Pasar Induk Brebes. Namun, setelah terjadinya kemacetan belakangan ini, perjalanan yang harusnya ditempuh beberapa menit, bisa mencapai satu jam, bahkan berjam-jam.

Contoh lain dari terganggunya ekonomi warga adalah terganggunya angkutan penumpang dan barang di sekitar kabupaten Brebes. Sudah banyak armada angkutan umum yang memutuskan untuk mogok narik (mogok kerja bagi supir angkutan umu), karena susahnya akses jalan yang ada. Kebanyakan dari mereka malas untuk menunggu antrian kendaraan yang panjang. Alasan lain karena penumpang yang hendak bepergian lebih memilih menggunakan sepeda motor daripada angkutan umum, karena dirasa lebih efektif dan lebih cepat sampai tujuan. Memang, mengendaraI motor akan lebih cepat karena bisa menembus antrean kendaraan bermotor lain, dalam hal ini mobil, karena bentuk sepeda motor yang lebih ramping, memudahkan untuk menyelinap diantara mobil dan truk. Berbeda dengan angkutan umum yang berupa bus, atau minibus. Akibatnya, penumpang angkutan umum berkurang bahkan hilang (tidak menggunakan angkutan umum) dan setoran para supirpun tidak di dapat. Akhirnya, dari pada rugi karena adanya kemacetan yang terjadi, mereka (para supir angkutan umum) memilih untuk mogok kerja.

Masih banyak contoh-contoh lain lumpuhnya ekonomi warga.

Bersambung…