Brebes – puluhan warga bersama LSM Mas Jaka Kab. Brebes kemarin Rabu (13/7) sekitar pukul 09.30 menggelar aksi unjuk rasa di jembatan Kali (sungai) Pemali. Mereka berdemo karena gemar jalur pantuura Brebes macet hampir setiap hari, akibat perbaikan jembatan sungai Pemali tak kunjung usai.

Warga mendesak perbaikan jembatan agar dipercepat, dan diharuskan pada 1 Agustus selesai. Puluhan warga tersebut datang ke jembatan Sungai Pemali dengan berjalan kaki sambil mengangkat sejumlah poster  bertuliskan tuntunan-tuntunan warga.

Selain berorasi di atas jembatan Pemali sebelah utara yang saat ini masih diperbaiki, massa pendemo juga menggelar aksi treatikal. Beberapa pendemo terlihat mengenakan pakaian mirip pocong berlumuran darah. Ditengah-tengah orasi, seorang pendemo tiba-tiba menyiram badannya yang telanjang dengan cairan mirip darah.

Ia kemudian melakukan aksi tratikal dengan berguling di lantai jembatan dan melakukan jalan ngesot di jalur pantura. “Ini adalah korban kecelakaan. Gara-gara perbaikan jembatan tak kujung selesai, jalan macet. Korban nyawa berjatuhan dan roda perekonomian terganggu,” teriak soerang pendemo saat aksi treatikal.

Aksi warga tersebut spontan memancing perhatian para pengguna jalan. Sejumlah warga yang melintas rela berhenti untuk sekedar menyaksikan aksi tersebut. Unjuk rasa juga mendapatkan pengamanan cukup ketat dari jajaran Polres Brebes. Bahkan, Kapolres Brebes AKP Kif Aminanto dan Asisten I Sekda Pemkab Brebes, Drs HM Supriyono ikut berada di lokasi unjuk rasa.

Kesalahan Warga – “tuntutan kami hanya satu, percepat perbaikan jembatan Pemali ini. Kami memberi batas akhir sampai 1 Agustus, jembatan harus sudah dimulai. Jika tidak, kami akan menggelar demo yang lebih besar lagi,” tegas Koordinator Aksi Demo dari LSM Mas Jaka Brebes, Abdul Aris Assa’ad.

Menurut Aris, aksi unjuk rasa merupakan puncak dari kekesalan warga Brebes, terhadap jalan yang macet setiap hari. Hal ini menyebabkan aktivitas warga terganggu, dan juga berimbas pada perekonomian warga.

Supir angkutan, pedagang kaki lima, tukang becak misalnya, pendapatan mereka turun akibat kemacetan yang terjadi. “Ini sudah keterlaluan. Binamarga dan rekan pemegang proyek harus bertanggung jawab. 1 Agustus jembatan harus sudah jadi,” paparnya.

Pengwas Lapangan Proyek Perbaikan Jembatan Pemali, Balaikambang dan Pakijangan, Abdul Ghani Sulut menjelaskan, sesuai rencana di lapangan, pekerjaan memang akan dipercepat. Direncanakan akhir juli sudah selesai. Bahkan untuk jembatan Pakijangan kini sudah dibuka.

Adapun jembatan Balaikambang, rencananya akan dibuka minggu depan. “akhir bulan ini Pemali sudah bisa dibuka. Kami kini tengah terus berupaya.” Ujarnya.

Sumber : Suara Merdeka, Rabu, 13 Juli 2011