PanturaNews (Brbebes) – Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kab. Brebes, Jateng, Masrukhi Backhro, menegaskan para petani di wilayah Kabupaten Brebes tidak setuju menginport beras yang hendak dilakukan oleh pemerintah pusat. Pasalnya, dengan menginport beras, jelas akan merugikan petani yang saat ini sedang menikmati panen.

“Kami menilai ini hanya kepentingan pedagang dan konglomerat saja, yang ingin mengambil untung dari import” Kata Backhro, Minggu 10 Juli 2011.

Pihaknya juga menilai inport yang hendak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional tak realistis karena belum ada gejolak pasar dari masyarakat. Ia berpendapat seharusnya biaya import beras dialokasikan untuk peningkatan produksi pangan di daerah, seperti budi daya padi air asin dan pembangunan waduk karet untuk menghindari masuknya air laut ke kaerah pesisir.

“ini lebih efektif untuk menaga persediaan pangan daripada membeli beras dari negara asing” ujarnya.

Dijelaskannya, penolakan import beras ini juga dengan alasan bahwa produksi padi di Brebes meningkat. Petani di Brebes Selatan melakukan penanaman tiga kali dalam setahun. Sementara di daerah peisir, para petani sudah mulai mengembangkan budidaya padi air asin yang hasilnya juga melimpah.

Sumber : Pantura News, Senin, 11 Juli 2010